Senin, 26 November 2012

Terjadi Begitu Saja

Ini hobi baru saya :) belum lama sih saya mulai coba resep sana coba resep sini. Dan soal hasil, jangan bayangkan rasa yang spektakuler, atau bentuk yang indah kayak yg ada di acara kuliner tv. Hasil karya saya masih ala-ala warteg dan kelas rumahan. Yang penting cukup untuk bikin suami ngambil nasi sampe 3x ^___^ 

Masuk dapur bukanlah prestasi buat saya. Mengingat ada begitu banyak alternatif melepas penat di weekend time dan seabreg kegiatan saat weekdays...saya punya banyak alesan untuk nggak dari dulu belajar masak. Cuma memang, yang perlu digarisbawahi disini adalah, nggak ada tuh inspirasi untuk masuk dapur. It was just happened dan berlanjut begitu aja sampe sekarang. 

Jadi, ya untuk kelas pemula sok sibuk dan new comer , boleh donk saya pamer dikit hasil masakan saya hehehe.



Sabtu, 24 November 2012

A Very Simple "Hello...!"

Haloooowwww...

Ya ampyuuun... setaun lebih lho nggak mendatangi blog ini :) 
Ternyata rindu kali awak ni....Ketemu sama barisan kata dan template "post a new blog" bener-bener obat kangen deh :) 
Ada apa kah gerangan yang membawa gw kembali bermain kata setelah sekian lama?
Ternyata rindu yang sedemikian hebat masih dikalahkan oleh yang namanya rutinitas. Hihihi, nggak mau ngeles ah, memang selama ini waktu serta tenaga gw diserap habis sama yang namanya aktivitas dan rutinitas sbg wanita karir dikantor, istri dan ibu dirumah. Dari melek sampe merem sampe melek lagi, ya muter-muter disitu aja cerita gw. Walaupun ada boanyak kejadian yang bisa dishare selama setahun terakhir, terutama setelah gw berstatus sebagai ibu beranak dua dan...efektif pindah ke rumah kami sendiri.

Kehidupan dimulai...
cerita dimulai....

Beberapa waktu yang lalu, sudah ada yang menangkap basah blog ini. Nyuruh gw untuk nulis lagi. Dan belum lama ini, setelah jalan-jalan di beberapa blog...baca lagi tumpahan isi hati , everyday story of a living mind, rasanya memang nggak ada alasan untuk nggak menuliskan a very simple "Hello...." to my self, after all...., I guess I deserve a time to dance my fingers out in a melody of words :)


Helloooooo thereeeee...... ^____^

Minggu, 04 Desember 2011

Elisabeth Auclaire Ferenina Danniswara

Mohon disambut...another miracle in my life : Elisabeth Auclaire Ferenina Danniswara.

14 November 2011. Satu hal yang gw patut syukuri adalah kebenaran kalimat :
God said yes, and give you what you want.
He said no, and give you something better.
He said wait, and give you the best.

Bener dan terbukti nyata sekali kalimat ini. Disela-sela menanti kelahiran si adek yang penuh harap-harap cemas karena sering ditinggal suami dinas, ternyata waktu Tuhan suruh gw untuk, "tunggu!", hasilnya adalah yang terbaik. Ketungguan nyokap, suami dan mertua. Melalui persalinan normal + induksi persis waktu lahiran si kakak Nuno, yang aduhai.....antara hidup dan mati rasa sakitnya....akhirnya lahirlah malaikat mungilku dengan bb 3.3 kg dan panjang 49cm.

Beberapa hari setelah bersalin di RSPP adalah saat-saat yang ngangenin dan menyenangkan. Suster dan dokter serta fasilitasnya pas sama ekspektasi gw, semuanya menyenangkan. Yang penting, gw nggak lagi-lagi terserang baby blues yang bikin stress itu. Mungkin karena sudah pengalaman, jadi lebih tenang. ASI gw juga lebih lancar dari jamannya si kakak. Karena dari awal, gw sudah kasih barikade berduri sama mama untuk nggak komentar apapun soal ASI. Dan kadang, memang harus lewat cara begitu maksud komunikasi kami tersampaikan.

Sudah hampir dua minggu umur Auclaire, semuanya berjalan dengan lancar. Dulu pas jaman Nuno, gw inget banget tuh, sampe kurang lebih dua bulan adalah masa-masa berat dimana gw justru banyak berantemnya sama suami dan mama. Puji Tuhan yang sekarang lancar.
Yang justru gw rasakan adalah sekarang ini pikiran dan kepala gw (juga hati, semoga), sangat-sangat terbuka dan gw berasa wise aja gitu. Dalam menghadapi semua hal dihidup ini, rasanya ada pertimbangan kedua, ketiga dan hal lain yang rasanya nggak terpikir sebelumnya. Mungkin, bisa jadi pengaruh hormon. Semoga tidak. Semoga ini bersambung terus sebagai bentuk kedewasaan gw :) amin!

Sekarang jam 4 pagi. Gw liatin aja tuh muka bayi kecil dua "biji" dikasur, berserakan :) pemandangannya indah sekali. Semoga memang menjadi berkat yg indah bwt keluarga gw.

Jumat, 21 Oktober 2011

My maternity leave yang jauh lebih panjang drpd yg ada di UU Ketenagakerjaan :)

Alooohaaaa…Yuhuuuu…!!! ^0^

Apa…. gw sudah bilang bahwa sekarang ini gw sedang maternity leave selama 3 bulan?

Apa…. gw sudah bilang bahwa hari-hari ini gw sedang menanti detik-detik lahirnya anak kedua gw –namanya Fereauclair Danniswara- kedunia?

Apa…. gw sudah bilang bahwa menghabiskan 24 jam bersama anak pertama gw –Daniel Ferenuno Danniswara- akhirnya mengobati waktu yang selama ini ’terbuang’ di kantor seharian? Apa gw sudah bilang bahwa kegiatan ngurus anak dan ngurus rumah ternyata jauh lebih menyenangkan daripada ngurus nasabah dan ngurusin target?

Apa….gw sudah bilang bahwa saat ini gw sedang memantapkan hati untuk jadi ibu rumah tangga dan berhenti jadi wanita karir ?

Apa… gw sudah bilang bahwa ….??

hehehe...banyak yg gw belum bilang yah...ini semua karena waktu yang selalu disita sama rutinitas di kantor.

12 jam di kantor dan kemacetan Jakarta (the moron city that i hate so much), 8 jam untuk istirahat dan tidur, 4 jam untuk keluarga...dalam sehari..? Me time..? Wassalam hehehe....

Tapi dengan cuti panjang 3 bulan, akhirnya gw menemukan secuil harapan untuk kembali mengurusi suami tercinta, dan anak-anak tersayang. Ditambah dengan cuti panjang selamanya...jika memang akhirnya gw memutuskan untuk resign J Yaaaah, kalo kemudian muncul dilema dan pertentangan mengenai keputusan gw untuk berhenti kerja....gw rasa wajar. Gw hanya bisa menyikapinya dengan sewajarnya, karena biar bagaimanapun juga segala sesuatu butuh waktu untuk berproses dan memberi pembuktian. Mungkin aja suatu saat akan ada yang menyalahkan gw atau bahkan gw sendiri menyesali keputusan untuk berhenti bekerja. Tapi, gw nggak akan pernah tau sebelum mencoba. Kalau suatu saat nanti gw harus jatuh dan sakit, let it be.

Hahaha, kok jadi serius gini sih omongannya?? Ya ya, memang bukan sebauh keputusan kecil dalam hidup gw. Hampir sama ketika gw memutuskan untuk menikah dulu. Bedanya...dulu gw nggak punya orang lain untuk jadi orientasi dan dasar keputusan gw, alias konsekuensi ditanggung penumpang alias diri sendiri. Kalo sekarang, gw harus mempertimbangkan keluarga, suami dan terutama anak-anak gw.

Toh....semua ini gw lakukan untuk mereka bertiga kok. Karena by the end...ya...keluarga lah yang kita punya... Jadi... apa...gw sudah bilang bahwa.....sebenernya post ini nggak penting-penting amat?? hahaha....

Minggu, 11 September 2011

mingkem :)

Keputusan untuk memberhentikan babbysitter yang satu itu, gw rasa....membungkam mulut banyak orang :) bikin mereka mikir dua kali kalo mau komentar hehehe.... *tersenyum licik dan puas penuh kemenangan._Duh Gusti, maap ya...kan cuma ingin yang terbaik bwt Nyunyow_ *

Dan tiba-tiba teringat, bahwa dimana-mana yang namanya ibu pasti pengen yang terbaik bwt anaknya....

Selasa, 09 Agustus 2011

Sesaat sebelum membuat keputusan

Katanya...
jangan memutuskan sesuatu kalo sedang marah...
jangan berjanji kalo sedang gembira...
Katanya...
hati-hati dalam bersikap, pikir dua kali sebelum melakukan sesuatu, bayangkan dahulu sebelum diucapkan. Supaya tidak menyesal nantinya.
Katanya...
pengalaman mengajarkan sesuatu yang berharga. Dan bahwa kedewasaan tidak bergantung pada usia, tapi pada bagaimana kita bersikap dalam menghadapi sesuatu. Karena bukan peristiwanya yang penting, tapi bagaimana kita menanggapi hal tersebutlah yang menentukan.
Katanya...
dia mengenalku dengan baik, dan dia pikir keputusanku kali ini tidak terlalu tepat. Supaya aku tidak menyesal dikemudian hari, dan ini semua dilakukan demi kebaikanku. Katanya dia lebih dahulu menghadapi dunia ini dan lebih tau apa yang hendak terjadi. Jadi, dia berhak memberiku nasehat. Katanya....kata ibuku....


Minggu, 07 Agustus 2011

Perjalanan

2007

Diawali dengan menjadi peserta PPE di Bank Niaga, semuanya berjalan dengan indah. Lingkungan dan suasana baru, teman-teman baru, pelajaran baru, tempat baru. Semua yang baru selalu menyenangkan dan menumbuhkan semangat. Ditambah dengan cerita diluar kelas, ngga ada yang lebih baik dari masa-masa ini. Saat gw harus keluar kota setiap 1-2 bulan, saat de brief yang bikin sehari sebelumnya nggak selera makan dan ngga bisa tidur, saat jauh dari orang-orang rumah... adalah jenis stress yang menyenangkan. Delapan bulan terbaik sepanjang 2007 dan ngga bisa di trade off dengan apapun juga. I think this is my year to count.

2008

Awal penempatan sbg junior officer di Thamrin. Stress? pasti. Serasa ngga ada selera untuk bangun pagi dan menuju ke kantor setiap harinya. Gw inget banget tuh rasanya , sambil ngeliatin penanggalan berharap 2 tahun ikatan dinas akan segera selesai gara-gara Unilever. Hihihihi, siapa bilang gw ngga stress? Stress! Tapi jenis stress yang ini juga gw masih bisa handle, karena pada akhirnya, gw bisa melewati masa ini dengan baik. Masa-masa dimana gw dihadapkan sama kenyataan dunia bekerja , tapi masih bisa membawa idelisme dan prinsip diri. Teryata disini gw belajar bawha menjadi seorang yang memegang prinsip adalah jauh lebih menyenangkan daripada menjadi seseorang yang ikut arus dan harus membiasakan diri dengan sesuatu yang bukan aku. Mungkin kelihatannya egois dan gw terlihat seperti mercusuar anti perubahan , idealis kesiangan, atau apapun juga yang harus siap musnah karena tidak bisa menyesuaikan diri. Tapi kenyataannya adalah, prinsip gw sejalan dengan apa yang ada di perusahaan. kami bak rel kereta apa yang memegang kepentingan masing-masing, tapi menuju ke arah yang sama. Gw ngga keberatan untuk setiap malam keluar kantor jam 8 untuk berlama-lama bikin memo, ngerjain kerjaan yang harusnya bisa dikerjain besok, clean desk, filing....apapun... Thamrin was my second home. Icount this year as mine, also.

2009

Mulai pindah ke Niaga Tower. Masih terhitung menyenangkan rasanya. Ada beberapa teman baru yang bahkan bertahan menjadi teman diskusi ttg hal-hal kerja dan pribadi hingga saat ini. Awalnya juga sempet nggak enak, karena gw harus menyesuaian (lagi?). Well, masih bisa dinetralisir dengan kenyataan bahwa gw rasa semua angkatan PPE juga melakukan hal yang sama : penyesuaian. So pindah cabang bukan perkara besar bwt gw. Ngga ada peristiwa yang cukup berarti, gw masih melakukan hal yangg sama sejak tahun kemarin. Masih dengan semangat yang sama, masih dengan idealisme yang sama, masih dengan tujuan yang sama.

2010

Dan terjadilah yang disebut : merger. Sekitar pertengahan tahun, sampai dengan akhir tahun. Ngga sama dengan yang sudah-sudah. Dimasa ini gw mulai mengalami perubahan kebiasaan, aturan, tubruk sana tubruk sini, ketemu sama orang-orang baru lagi, buang sana, tempel sini....semuanya terjadi begitu cepat dan kami, gw, dipaksa untuk mengikuti arus perubahan yang ada. Ini adalah masa berharga dimana ngga semua bankers muda mengalami yang namanya merger. Dan atas pengalaman berharga ini, gw harus mengucapkan terimakasih banyak kpd kantor gw. Tapi disaat yang bersamaan juga gw harus marah pada kenyataan karena ada begitu banyak hal dari gw yang harus ”diambil”. Gw mulai kehilangan idealisme yang harus dimakan mentah-mentah sama kenyataan baru yang terjadi. Gw mulai melihat sebuah tatanan baru yang...bukan menuju kearah perbaikan bersama, antara karyawan dengan perusahaan. Hanya ada salah satu pihak yang diuntungkan. Bagi mereka yang berpengalaman didunia perbankan lebih dari 5 tahun, banyak yang memilih opsi "leave" dari pada harus "stay and respect". Gw masih berusaha membaca situasi dan meyakinkan diri bahwa somehow perubahan menuju ke arah perbaikan lah yang akan terjadi. Menunggu, wait and see....Sembari melanjutkan stress , dengan varian baru yang kali ini sudah mengalami evolusi dan regenerasi...yang entah bagaimana...gw merasa tidak akan mampu melewatinya....Gw mulai belajar untuk menjadi seseorang yang realistis di dunia kerja. It was sucks... I think this year can't be counted as mine like before...

2011

Apa karena keluarga? Atau karena kejadian di Gatot Subroto? Atau karena akumulasi muak dari tahun 2010 yang sudah ngga bisa lagi gw tahan? Atau karena kondisi jalanan Jakarta yang menggila? Atau karena makin sedikit angkatan PPE yang masih bertahan di sini, sementara sebagian besar lainnya sudah bekerja di tempat lain?

Gw nggak pernah tau pasti karena apa, tapi yang jelas, gw butuh alasan kuat untuk meyakinkan gw tetap bekerja di sini. Semua visi dan semangat, semua cita-cita, semua idelisme dan kebanggan yang gw punya di awal tahun dulu sekarang hilang sudah. Dan digantikan dengan “kenyataan dunia kerja” yang justru bikin gw semakin tidak bisa menyusukuri apa yang sudah gw punya. Pemandangan yang setiap hari harus gw saksikan di kantor...I don't want to grow old in “this” kind of palce, with “these” kind of people around me...


Adios CIMB...