Selasa, 09 Agustus 2011

Sesaat sebelum membuat keputusan

Katanya...
jangan memutuskan sesuatu kalo sedang marah...
jangan berjanji kalo sedang gembira...
Katanya...
hati-hati dalam bersikap, pikir dua kali sebelum melakukan sesuatu, bayangkan dahulu sebelum diucapkan. Supaya tidak menyesal nantinya.
Katanya...
pengalaman mengajarkan sesuatu yang berharga. Dan bahwa kedewasaan tidak bergantung pada usia, tapi pada bagaimana kita bersikap dalam menghadapi sesuatu. Karena bukan peristiwanya yang penting, tapi bagaimana kita menanggapi hal tersebutlah yang menentukan.
Katanya...
dia mengenalku dengan baik, dan dia pikir keputusanku kali ini tidak terlalu tepat. Supaya aku tidak menyesal dikemudian hari, dan ini semua dilakukan demi kebaikanku. Katanya dia lebih dahulu menghadapi dunia ini dan lebih tau apa yang hendak terjadi. Jadi, dia berhak memberiku nasehat. Katanya....kata ibuku....


Minggu, 07 Agustus 2011

Perjalanan

2007

Diawali dengan menjadi peserta PPE di Bank Niaga, semuanya berjalan dengan indah. Lingkungan dan suasana baru, teman-teman baru, pelajaran baru, tempat baru. Semua yang baru selalu menyenangkan dan menumbuhkan semangat. Ditambah dengan cerita diluar kelas, ngga ada yang lebih baik dari masa-masa ini. Saat gw harus keluar kota setiap 1-2 bulan, saat de brief yang bikin sehari sebelumnya nggak selera makan dan ngga bisa tidur, saat jauh dari orang-orang rumah... adalah jenis stress yang menyenangkan. Delapan bulan terbaik sepanjang 2007 dan ngga bisa di trade off dengan apapun juga. I think this is my year to count.

2008

Awal penempatan sbg junior officer di Thamrin. Stress? pasti. Serasa ngga ada selera untuk bangun pagi dan menuju ke kantor setiap harinya. Gw inget banget tuh rasanya , sambil ngeliatin penanggalan berharap 2 tahun ikatan dinas akan segera selesai gara-gara Unilever. Hihihihi, siapa bilang gw ngga stress? Stress! Tapi jenis stress yang ini juga gw masih bisa handle, karena pada akhirnya, gw bisa melewati masa ini dengan baik. Masa-masa dimana gw dihadapkan sama kenyataan dunia bekerja , tapi masih bisa membawa idelisme dan prinsip diri. Teryata disini gw belajar bawha menjadi seorang yang memegang prinsip adalah jauh lebih menyenangkan daripada menjadi seseorang yang ikut arus dan harus membiasakan diri dengan sesuatu yang bukan aku. Mungkin kelihatannya egois dan gw terlihat seperti mercusuar anti perubahan , idealis kesiangan, atau apapun juga yang harus siap musnah karena tidak bisa menyesuaikan diri. Tapi kenyataannya adalah, prinsip gw sejalan dengan apa yang ada di perusahaan. kami bak rel kereta apa yang memegang kepentingan masing-masing, tapi menuju ke arah yang sama. Gw ngga keberatan untuk setiap malam keluar kantor jam 8 untuk berlama-lama bikin memo, ngerjain kerjaan yang harusnya bisa dikerjain besok, clean desk, filing....apapun... Thamrin was my second home. Icount this year as mine, also.

2009

Mulai pindah ke Niaga Tower. Masih terhitung menyenangkan rasanya. Ada beberapa teman baru yang bahkan bertahan menjadi teman diskusi ttg hal-hal kerja dan pribadi hingga saat ini. Awalnya juga sempet nggak enak, karena gw harus menyesuaian (lagi?). Well, masih bisa dinetralisir dengan kenyataan bahwa gw rasa semua angkatan PPE juga melakukan hal yang sama : penyesuaian. So pindah cabang bukan perkara besar bwt gw. Ngga ada peristiwa yang cukup berarti, gw masih melakukan hal yangg sama sejak tahun kemarin. Masih dengan semangat yang sama, masih dengan idealisme yang sama, masih dengan tujuan yang sama.

2010

Dan terjadilah yang disebut : merger. Sekitar pertengahan tahun, sampai dengan akhir tahun. Ngga sama dengan yang sudah-sudah. Dimasa ini gw mulai mengalami perubahan kebiasaan, aturan, tubruk sana tubruk sini, ketemu sama orang-orang baru lagi, buang sana, tempel sini....semuanya terjadi begitu cepat dan kami, gw, dipaksa untuk mengikuti arus perubahan yang ada. Ini adalah masa berharga dimana ngga semua bankers muda mengalami yang namanya merger. Dan atas pengalaman berharga ini, gw harus mengucapkan terimakasih banyak kpd kantor gw. Tapi disaat yang bersamaan juga gw harus marah pada kenyataan karena ada begitu banyak hal dari gw yang harus ”diambil”. Gw mulai kehilangan idealisme yang harus dimakan mentah-mentah sama kenyataan baru yang terjadi. Gw mulai melihat sebuah tatanan baru yang...bukan menuju kearah perbaikan bersama, antara karyawan dengan perusahaan. Hanya ada salah satu pihak yang diuntungkan. Bagi mereka yang berpengalaman didunia perbankan lebih dari 5 tahun, banyak yang memilih opsi "leave" dari pada harus "stay and respect". Gw masih berusaha membaca situasi dan meyakinkan diri bahwa somehow perubahan menuju ke arah perbaikan lah yang akan terjadi. Menunggu, wait and see....Sembari melanjutkan stress , dengan varian baru yang kali ini sudah mengalami evolusi dan regenerasi...yang entah bagaimana...gw merasa tidak akan mampu melewatinya....Gw mulai belajar untuk menjadi seseorang yang realistis di dunia kerja. It was sucks... I think this year can't be counted as mine like before...

2011

Apa karena keluarga? Atau karena kejadian di Gatot Subroto? Atau karena akumulasi muak dari tahun 2010 yang sudah ngga bisa lagi gw tahan? Atau karena kondisi jalanan Jakarta yang menggila? Atau karena makin sedikit angkatan PPE yang masih bertahan di sini, sementara sebagian besar lainnya sudah bekerja di tempat lain?

Gw nggak pernah tau pasti karena apa, tapi yang jelas, gw butuh alasan kuat untuk meyakinkan gw tetap bekerja di sini. Semua visi dan semangat, semua cita-cita, semua idelisme dan kebanggan yang gw punya di awal tahun dulu sekarang hilang sudah. Dan digantikan dengan “kenyataan dunia kerja” yang justru bikin gw semakin tidak bisa menyusukuri apa yang sudah gw punya. Pemandangan yang setiap hari harus gw saksikan di kantor...I don't want to grow old in “this” kind of palce, with “these” kind of people around me...


Adios CIMB...